- Back to Home »
- Cerpen »
- Cerpen: Rajam
Posted by : Unknown
Minggu, 04 Maret 2012
![]() |
DI SIANG garang, di atas paha terbuka
istrimu yang membelaimu lembut, kau melihat dari alam jauhmu sebuah kematian
yang paling indah dan mencekam. Kematian seorang perempuan jalang.
Ya,
seorang perempuan jalang, di lapangan kota, diseret digelandang dalam sebuah
iring-iringan riuh. Mirip upacara keagamaan. Beduk-beduk, gending-gending,
memekik memekakkan telinga. Ini bukan pasar atau ritual sunatan atau
riuh mauludan saban tahun. Tapi riuh gending dan beduk ini adalah tabuh kematian. Sebentar lagi, sejelang lagi, akan tercetus kematian seorang perempuan jalang yang merobek-robek kesadaran beragamamu kelak di kemudian hari.
riuh mauludan saban tahun. Tapi riuh gending dan beduk ini adalah tabuh kematian. Sebentar lagi, sejelang lagi, akan tercetus kematian seorang perempuan jalang yang merobek-robek kesadaran beragamamu kelak di kemudian hari.
Di
lapangan itu neraka jahanam didandani. Di lapangan itu sebentar lagi
ulama-ulama tahkim kota akan menjatuhkan palu takdir kematian yang barangkali
paling mengerikan jika dilihat dari sudut pandang perempuan jalang itu. Sudut
pandang korban yang teraniaya karena ketakberdayaan membela diri atau berdebat
tentang mana yang benar mana yang salah mana yang boleh mana yang tidak. Sebuah
upacara kafarat. Semacam denda yang harus dibayar karena melanggar aturan
Tuhan. Dan denda itu adalah darah yang berujung pada kematian. Rajam.
Dan
perempuan jalang malang itu, terbersitkah dalam alam sadarnya bahwa dalam
tabuhan beduk dan gending serta sorak riuh memekak itu bersemayam hantu
kekejian dan keberingasan yang berzirah rubah kegelapan. Dan semua zirah itu
berebut tempat tersembunyi dan kelam dalam jiwa manusia yang kemudian
menyeradak keluar dengan cara yang tak terduga. Dan barangkali dengan cara yang
tak masuk akal.
Di
tengah lapangan, telah tersedia liang yang digali sepagi tadi. Sepinggulan
dalamnya. Dan di sana dipancangkan sebilah bambu setinggi tombak pemburu babi.
Bambu-bambu belahan yang dipotong pendek-pendek dan sebentangan tambang
memagari lubang itu dalam jarak 10 kaki. Dibuat melingkar. Terukur dengan baik
untuk sebuah penyiksaan brutal atas perilaku jalang. Atas nama kafarat. Dan
nantinya drama ini bisa menjadi semacam nubuat yang gemuruhnya bisa tersesap
dalam pori-pori, dalam alam sadar, bahwa hidup harus baik-baik saja. Kalau
tidak, neraka jahanam akan terlalu sering digelar di lapangan kota atau di mana
pun. Dan yang kena tak terkecuali. Siapa pun yang berani hidup jalang dan
lancung.
Dan
kematian itu bukan lagi semacam gertakan bagi perempuan jalang itu. Sebab dalam
liang itu separuh tubuhnya ditanam. Sementara tangannya akan diikat melipat ke
belakang berdempet dengan sebatang bambu yang berdiri meneguh dengan permukaan
yang bersayat tajam. Cukup untuk melukai kalau tangan bergerak atau berusaha
meronta. Dan batu-batu akan beringas menghujaninya.
Kau
tak tahu, apa persisnya salah perempuan itu hingga beduk hari ini bertalu dan
gending dipukul-pukul hingga muntah tak beraturan di cuping-cuping kuping.
Yang
kau tahu, ini pun samar-samar dan belum bisa dijadikan pegangan yang pasti dan
meyakinkan, perempuan jalang itu datang dari wilayah antah berantah. Dan di
sebuah pagi, dia muncul begitu saja. Tapi bukan ini yang menjadi masalah,
melainkan ulahnya berkitar-kitar di tengah kota. Dia berjalan seenaknya dengan
tak satu pun kain membungkusi tubuhnya. Kotor dan menjinjikkan. Menyebarkan bau
amis dan membuat muntah biri-biri yang berpapasan. Serupa sampah yang sudah
berbulan-bulan tak pernah dibakar atau ditanam. Pun begitu bagi lelaki dewasa
yang melihatnya tentu masih tersisa asyiknya tubuh kotor itu. Bagi anak-anak
tentu tubuh lancung itu bisa menjadi semacam hiburan. Dan bagi
perempuan-perempuan mulia dan beradab tentu menahan malu yang tak kepalang.
Beberapa orang perempuan mulia pernah berpapasan lalu menyiramnya dengan air
dari radius beberapa meter. Atau pernah suatu kali langsung menceburkannya ke
sungai dan melemparinya kain.
Tapi
itu tak bertahan lama. Beberapa hari kemudian dia akan kedapatan di tengah kota
berjalan tanpa balutan secarik pun kain. Dan tingkah lakunya makin lama makin
tak senonoh. Dia tak segan-segan menari-nari di pasar dan kemaluannya
digosok-gosokkan di tiang umbul-umbul. Atau berjingkrak-jingkrak di pintu depan
masjid ketika orang-orang hendak mendirikan kewajiban sembahyang.
Dan
bahkan pada malam hari beberapa kali menghadang para santri selepas pengajian
di surau dan memintanya agar bersedia membuntinginya. Sebab, katanya, dengan
punya anak dari cairan pelafaz-pelafaz nama Tuhan, dunianya tak lagi sesunyi
seperti dijalaninya hingga hari ini. Perjalanan yang sungguh melelahkan dan tak
tertanggungkan. Dia akan senang sekali jika kebuntingan itu datang dan melihat
makhluk pembunuh sunyi itu menggelantung selama dua tahun di puting teteknya yang
kelak tak segering saat ini.
Bahkan untuk mengejar kehendak itu, beberapa
kali dia menggoda para guru ngaji yang barangkali saja mau bersedia bersamanya.
Mengajarkannya ngaji dan dia akan membalasnya dengan imbalan menunjukkan
bagaimana memijat bagian-bagian tubuh lelanang yang mendatangkan kenikmatan tak
terkira.
Karena usahanya yang gigih itu, dia pun
beroleh beberapa kali keberuntungan. Beberapa kali dia mampu mencucup cairan
santri dan guru ngaji. Dan sejak itu dia menemukan resep bahwa untuk mendapatkan
cairan itu, dia tak boleh lagi berjalan telanjang seperti dulu lagi. Tubuh
harus bersih dan kalau perlu dibaluri melati pewangi yang bisa dipetiki dari
dalam pagar-pagar warga di malam hari. Dan dia tak boleh lagi meminta cairan
suci itu di tempat terbuka, tapi harus menghadangnya di tempat yang paling
gelap. Di semak-semak yang jarang kena jamah orang banyak. Atau di bawah lincak
di pasar yang gelap. Bahkan di belakang jamban yang jauh dari surau. Di situ
biasanya dia mengintip lelaki santri atau ustad yang kencing berdiri. Dan
bukannya dia tidak memilih. Dia terihik-ihik sendiri bila mendengar suara
kencing di antara mereka. Yang suara kencingnya hanya seperti hujan kapas,
pertanda zakarnya kecil. Lain jika kencingnya memercik deras dan menggelontor
cresssssss. Itu pertanda zakarnya besar. Dan yang kedua ini yang dipastikan
akan dimintainya berkuda bersama dalam kegelapan.
Dari
satu dua pelafaz yang mencicipinya, dia jadi tahu bahwa mereka itu sesungguhnya
mau. Tapi malu yang dalamlah yang membuat mereka memalingkan muka dan pura-pura
berwajah pias dan menunjukkan kemuakan yang tiada banding. Sebab tak
terbayangkan jika ketahuan secara terbuka sedang bertukar tangkap dengan
ganasnya, tak terkiralah bagaimana martabat kesucian yang mereka pelihara sedemikian
rupa akan jatuh berantakan.
Betapa tulusnya dia melakukan praktik-praktik
sundal itu. Hanya untuk mendapatkan keturunan yang baik-baik dari cairan mereka
yang jalan darahnya kerap tercampur dengan ruap nama Tuhan Yang Agung. Tapi
ulama dan orang-orang berbudi punya pendapat lain. Senonoh ya senonoh. Sundal
ya sundal. Tak peduli apa pun motifnya. Generasi muda, santri-santri yang masih
labil, harus diselamatkan dari kebangkrutan moral. Apalagi, istri-istri yang
dibakar cemburu karena suaminya ada main dengan perempuan jalang, bersatu padu
menghadap ulama-ulama tahkim agar mengambil tindakan keras. Dan para ulama
tahkim itu berkesimpulan bahwa perempuan jalang itulah penyebab pertama
terjadinya perzinahan besar-besaran yang dilakukan dengan sembunyi di mana pun
di tempat paling temaram yang disediakan kota suci ini. Dengan sigap dan
antisipasi berkecambahnya kerusakan akhlak penduduk kota yang kian parah,
ulama-ulama itu menyerukan penangkapan.
Dan
di tepi teritis surau di pinggiran kota yang sepi, kala dia duduk terpekur
entah meratapkan apa --mungkin bermunajat-- segerombol kadet kota menangkapnya,
menggelandangnya, dan menyeretnya ke neraka bumi.
Dan
di siang hari yang ganas, di tengah lapangan, lubang rajam separuh badan itu
menunggunya. Lubang yang akan mengakhiri takdir buruk dan kutuk bumi jahanam.
KAU
menyeruak di antara orang-orang yang berbaris rapat. Berlapis-lapis. Menyikut
kiri kanan hanya untuk melihat wajahnya dengan jelas. Dari jarak pandang yang
terdekat. Di pinggir lingkaran bambu.
Dan
terang sudah. Kau lihat zirah yang menempel di tubuhnya sudah koyak.
Dicabik-cabik para istri yang kalap dan marah karena cemburu di sepanjang jalan
menuju tengah kota. Kain itu seperti tersampir begitu saja. Mungkin kain
sebelumnya yang dikenakan perempuan ini sudah habis lumat di tengah jalan oleh
luapan amarah dan diganti ala kadarnya untuk menutup malu bagi yang melihatnya.
Hanya agar alim ulama yang menghadiri upacara kafarat tidak turut memikul dosa
karena zina mata.
Kau
memperhatikannya dalam-dalam. Dari ujung rambut yang menggerai berantakan
hingga ujung kakinya yang terkelupas terpapas tanah batu keras sepanjang jalan
penyeretan. Dan matamu berhenti di mulutnya. Kau melihat sesuatu di bibirnya.
Seperti sepotong puding di bibir yang memerah darah. Dan di bibir yang
mengunyah puding itu kaulihat sebarisan pawai kata-kata pilu dan lelah --juga
terluka parah dari peperangan yang sedang dan masih berlangsung. Kaulihat
kata-kata itu hendak melompat dari gerbang mulutnya yang luka. Tapi sederet
pawai kata yang luka itu tercekat dan tertelan oleh riuh teriakan, sumpah
serapah perempuan-perempuan mulia, istri-istri setia, dan gumaman ragu para
lelaki pencicip di barisan paling belakang.
Walau batal melompat, kata-kata tak terkata
itu bisa kaurasai getarannya dari tempatmu berdiri berdesak-desakan. Kata-kata
itu mengembang dalam pori-pori bayangan, menyatu dengan riuh, mengambang
bersama udara. Mungkin meledak gemuruh. Menjelma menjadi sebentuk irama-irama
yang ganjil. Dan bisa jadi sebentuk derau kemabukan. Gumam aduh yang tercekat
terpendam. Atau kesakitan yang genting.
Hingga kaulihat ketika separuh tubuhnya sudah
tertanam sempurna, semua orang mengambil posisi melempar. Memungut batu-batu
yang sudah disiapkan. Memilih-milih yang kalau bisa seukuran kepal supaya
lontarannya tepat sasaran. Ini bukan upacara sunatan. Atau pasar reguler untuk
jual beli. Atau pesta mauludan. Atau gerebek syawal. Ini adalah kerumunan
perajam.
Tapi
kau tak mengambil posisi yang sama. Bersama-sama mengepal batu. Kau takut. Kau
merinding. Kau ingin seperti Isa, maju memeluknya yang sedang terpacak kuat di
bambu dengan tubuh setengah tertanam. Melindunginya di balik lenganmu. Ingin
menjadikan tubuhmu zirah untuknya, sebagaimana perlindungan Isa kepada
perempuan pelacur Magdalena. Semacam baju perang Imam Ali di Perang Tabuk.
Tapi
segera kausadar bahwa ini bukanlah permainan debus. Tubuhmu tak punya nyali dan
kekebalan untuk menghalau derau batu yang datang seperti guyuran bandang.
Dan
seonggok tubuh yang terikat dan tertanam separuh itu, seperti tak butuh
pertolonganmu. Atau siapa pun yang bermimpi jadi pahlawan di tubir kematian.
Sebab dibibirnya, kau lihat teraut seruas senyum. Sangat tipis senyum itu
sehingga tak mungkin tertangkap mata siapa pun yang sedang marah. Mungkin itu
karena puding yang terkunyah dan belum tertelan habis. Atau bisa jadi ekspresi
yang paling genting berduel dengan kematian di hadapan warga dan kadet kota
yang kalap. Ataukah puding di mulutnya itu yang membuatnya begitu kuat
menghadapi dukacita. Dan dukacita yang paling menyesap di hatinya adalah bahwa
hingga kematian menjelang, dia belum juga dikaruniai buah hati dari sumbangan
cairan para lelaki pelafaz nama-nama indah Tuhan yang sudah dicucupnya.
Dan
tubuh itu pun terkulai setelah dua pertiga jam berada dalam drama pelemparan
yang mencekam. Darah berceceran di mana-mana. Di atas tumpukan batu-batu yang
tajam mengoyak. Cabik-cabik daging yang meloncat dari raga berburai di atas
tanah. Berbaur bersama peluh para perajam yang kelelahan menghujaninya dengan
batu.
Dan
kau hanya menyaksikan itu semua dengan tangan menutup muka. Seperti mata yang
tak rela melihat darah mengucur. Tak lama berselang kau pun berlalu bersama
berlalunya yang lain-lain. Tapi tidak kembali ke rumah, tapi menuju kuburan
perempuan jalang itu. Ingin melihat apakah puding di mulutnya dibawanya
serta.***
Cerpen: Muhidin M. Dahlan
Sumber: Jawa Pos, Edisi 03/06/2005

