- Back to Home »
- Cerpen »
- Cerpen: gara-gara PS
Posted by : Unknown
Minggu, 04 Maret 2012
Pukul dua belas Faiz
pulang sekolah. Seusai pulang sekolah Faiz langsung pulang kerumah. Setibanya
di depan pintu ia mengetuk pintu dan langsung membuka pintu. “Assalamualaikum
...” ucap Faiz sambil berjalan mencari ibu. “Wa’alaikumsalam Nak ...” jawab ibu
yang sedang sibuk mengurusi jemuran di belakang rumah.
“Ibu ... Faiz pulang!!”
ucap Faiz sambil mencium tangan ibu. Hal semacam itu dilakukannya sejak ia
masih duduk di taman kanak–kanak hingga sekarang duduk di kelas lima. Faiz
berjanji akan melaksanakan kebiasaan itu seterusnya.
“Bu Faiz ganti baju
dulu ya ...” ujar Faiz sambil melangkah menuju kamarnya. “Habis itu wudlu terus
sholat ya nak ...” ujar ibu yang masih sibuk ngurus jemuran pakaian di belakang
rumah. Setelah sholat dhuhur selesai, Faiz kemudian langsung menuju ke meja
makan. Ibunya sudah mempersiapkan makan siang dengan lengkap menu masakannya. “Makan
yang banyak ya nak ...” pinta ibu seraya mengambilkan nasi untuknya. “Iya bu
...” jawabnya bersamaan dengan anggukan kepala. Kemudian mereka makan bersama
–sama.
Faiz adalah anak
satu–satunya ibu Fatimah, ayahnya sudah meninggal dunia hampir satu setengah
tahun yang lalu karena kecelakaan lalu lintas. Sekarang mereka berdua
menggantungkan diri pada penghasilan ibu sebagai penjahit dan penjual roti bolu
yang dititipkan di toko–toko. Hasil dari pekerjaan itu hanya cukup untuk
memenuhi kebutuhan sehari–hari mereka dan sedikit kebutuhan tambahan saja.
Setelah makan Faiz
lalu menonton televisi, karena acara televisi kurang begitu menarik di tonton
kemudian ia mengambilkan sebuah kotak kardus yang isinya adalah seperangkat
permainan modern dan canggih. Permainan ini banyak digemari mulai dari usai
dewasa sampai anak–anak. Permainan ini bernama play station, yang ia dapat dari
hadiah pamannya sewaktu naik kelas V SD kemarin, karena ia mendapat peringkat I
dikelasnya.
“Nak jangan bermain
play station terus nanti mata kamu pakai kacamata loh!! sana tidur siang dulu”
ujar ibu menasihati. Semenjak ada permainan play station di rumah Faiz memang
lupa waktu, lupa sholat, lupa mandi dan lupa pekerjaan rumah dari sekolah.
Hari minggu pun tiba,
disinilah Faiz semakin menjadi–jadi lupanya. Ia kebetulan disuruh ibunya untuk
menjaga rumah sendirian, karena ibu pergi kerumah ibu Ira untuk membantu ibu
Ira yang kebetulan akan mengadakan pesta dirumahnya dan ibunya Faiz membantu
membikinkan beraneka macam jajanan pesta.
Inilah kesempatan
besar yang ditunggu–tunggu Faiz. Ia bermain play station dari jam sembilan
sampai sore hari. Ia bermain dengan
sangat puas sampai sampai ia lupa makan, ia lupa sholat dan lupa pekerjaan
rumah yang harus dikumpulkan besok pagi disekolah.
Jam menunjukan pukul enam
sore, tiba–tiba listrik padam dan permainan play station pun dihentikan
kemudian ia beranjak dari tempat duduknya untuk mencari–cari lilin di dapur
lalu ia menutup pintu belakang rumah, menutup jendela–jendela ruang tamu dan
kamar.
Ia kemudian mandi, jam
setengah tujuh ibunya datang sambil membawa makanan untuk Faiz karena seharian
ibunya tidak dirumah. Faiz lalu makan dengan lahapnya, ibunya hanya tersenyum
memandang anaknya makan begitu lahapnya.
Setelah usai makan
Faiz minta ijin pada ibunya untuk pergi ke kamar. Di kamar ia langsung
merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Ia mulai merasa kelelahan karena
seharian ia bermain play station. Tanpa sadar kemudian ia tertidur dengan
pulas. Padahal ada pekerjaan rumah dari sekolah yang harusnya dikumpulkan besok
pagi.
Keesokan harinya ia
berangkat sekolah di kelas ia merasakan matanya tidak bisa begitu jelas membaca
tulisan, dia juga dimarahi oleh ibu guru karena tidak mengerjakan pekerjaan
rumah pelajaran Matematika dan ia juga tidak bisa menjawab pertanyaan yang
diajukan oleh ibu guru padanya kemudian ia dinasehati ibu gurunya supaya nanti
malam belajar sehingga ia bisa menjawab pertanyaan dari ibu guru.
Jam pelajaran sekolah
pun usai ia kemudian pulang ke rumah dan langsung menceritakan semua kejadian
disekolahnya pada ibunya. Ibunya hanya tersenyum mendengar semua cerita Faiz
dan juga memberi nasihat padanya. Semua ini gara–gara play station aku tidak
bisa menjawab pertanyaan dari ibu guru terus dimarahi ibu guru juga gara–gara
tidak mengerjakan pekerjaan ruimah dan aku juga harus memakai kaca mata.
Karya Esha Isnawati Zahrotul Widadah

