- Back to Home »
- Cerpen »
- Cerpen: Rokok Mbah Gimun
Posted by : Unknown
Minggu, 04 Maret 2012
Ke mana-mana Mbah Gimun selalu tampak dengan
rokok lintingan, yang terus menempel di antara dua bibirnya yang tebal dan
hitam. Rokok itu sangat besar dan hanya terbuat dari tembakau kasar dengan
kertas lintingan yang juga kasar. Mbah Gimun tidak pernah tampak mengisap rokok
yang ada di mulutnya itu. Rokok itu hanya dibiarkannya di sana dan terbakar
begitu saja sampai habis di salah satu sisinya. Di sisi yang lain, tembakau dan
kertas lintingan itu hanya hangus dengan warna hitam. Hingga bagian yang
terbakar itu, selalu
bengkok dengan bentuk yang sangat tidak beraturan.
Sambil tetap membiarkan rokok lintingan
mengepul di mulutnya, Mbah Gimun mengiris helaian daun kelapa satu demi satu.
Helaian itu terkulai begitu terpisah dari lidinya. Lidi yang kekar dia serut
beberapa kali dengan pisaunya, hingga tampak putih dan halus. Kalau bibirnya
mulai merasakan panas api rokoknya, atau kalau kepulan asap itu mulai
mengganggu mata dan hidungnya, maka dia pun berhenti sejenak, membuang puntung
yang masih menyala itu ke mana saja, lalu melinting lagi dan menyalakannya
dengan bara api. Setelah itu dia kembali mengiris helaian daun kelapa, sampai
lidinya terkumpul cukup banyak untuk diikat menjadi sapu.
Sehari-hari Mbah Gimun hanya membuat sapu
lidi. Tiap hari juga selalu ada anak-anak yang mengantar pelepah daun kelapa
segar, atau helaian daun yang telah disisir dan diikat. Lalu seminggu sekali
pedagang datang mengambil sapu lidi yang sudah terkumpul. Kalau pedagang itu
tidak datang, maka Mbah Gimun sendirilah yang akan mengantar ikatan-ikatan sapu
lidi itu ke kota. Dalam sehari, Mbah gimun bisa membuat lima sampai enam ikat
sapu lidi. Kalau dia bekerja dari pagi sekali sampai larut malam, maka bisa
sepuluh sapu lidi yang diselesaikannya.
Bagi Mbah Gimun, pendapatan dari membuat sapu
lidi itu lumayan. Dengan uang itu dia bisa membeli beras, minyak tanah, gula,
garam, dan yang paling penting adalah tembakau serta kertas lintingan. Mbah
Gimun tinggal sendirian saja di rumahnya yang terletak di ujung kampung. Sejak
istrinya meninggal beberapa tahun silam, anak-anak dan menantunya sebenarnya
ingin sekali memboyongnya. Tetapi Mbah Gimun selalu menolak.
”Kalau aku ikut kalian, cucu-cucuku itu akan
batuk semua. Mereka akan mabok asap rokokku yang sangit ini. Apa kalian ingin
cucu-cucuku itu sakit batuk?” Begitu selalu yang dikatakannya kalau anak-anak
dan menantu itu memintanya untuk tinggal bersama mereka. Padahal selama ini
tidak pernah ada seorang cucu pun protes. ”Ya memang rokoknya Embah itu baunya
seperti itu,” begitu selalu cucu-cucu itu menjawabnya.
Pada suatu pagi yang mulai agak kering pada
bulan Juli, Mbah Gimun kedatangan tiga orang tamu yang tidak dikenalnya. Mereka
berpakaian bagus-bagus, bersepatu bagus, membawa tas bagus, dan naik mobil yang
juga sangat bagus. Mereka tampak mendatangi rumah-rumah lain di kampung itu,
sebelum akhirnya masuk ke halaman rumah Mbah Gimun. Ketika Mbah Gimun
mempersilakan mereka masuk, orang-orang itu menolak. Mereka malah mengajak Mbah
Gimun duduk di lincak bambu di bawah pohon jambu di halamam rumah. Salah satu
di antara tiga tamu itu memperkenalkan diri mereka. Nama-nama mereka sulit
untuk diingat apalagi diucapkan oleh Mbah Gimun. Tamu yang satu lagi
mengeluarkan bungkusan tembakau dan kertas lintingan, lalu menyerahkannya
kepada Mbah Gimun.
”Minggu depan ini kita akan memilih pak bupati
baru Mbah!” kata salah satu tamu itu.
”Iya, saya sudah diberi tahu Pak RT dan sudah
diberi kartunya. Apa Mas-mas ini juga petugas pencoblosan?” tanya Mbah Gimun.
”Benar Mbah, ini gambar calon pak bupati itu,
nanti ditempel di sana ya Mbah?”
”Tetapi kok saya diberi tembakau banyak
sekali?”
”Tidak apa-apa Mbah, sebab kami tahu Mbah
Gimun suka merokok lintingan. Bukan hanya itu Mbah, ini juga ada sedikit uang
untuk tambahan belanja Mbah Gimun.”
”Kok sampeyan ini sudah tahu nama saya to?”
”Kan ada daftarnya Mbah. Tadi bapak yang
rumahnya di depan sana itu yang memberitahu bahwa inilah rumah Mbah Gimun.”
”O, ya terima kasih sekali, saya diberi
tembakau, diberi uang lagi.”
”Tapi begini Mbah, nanti Mbah harus mencoblos
gambar yang ini lo Mbah. Jangan yang lain ya!”
”Pasti Mas, pasti, kan Pak Bupati yang ini
yang telah memberi saya tembakau dan uang.”
Setelah para tamu itu pergi, Mbah Gimun
membuka amplop putih itu dan di dalamnya ada lembaran uang limapuluh ribu
rupiah. Mbah Gimun kaget tetapi senang. Limapuluh ribu itu berarti
pendapatannya selama seminggu. Lumayan. Uang itu disimpannya di antara tumpukan
surat-surat dan kartu-kartu. Mbah Gimun lalu membuka besek. Di dalamnya tampak
tembakau yang cokelat kehitaman dengan aromanya yang harum. Mbah Gimun menarik
satu lembar kertas lintingan, mencomot tembakaunya, melintingnya, menyalakannya
dengan bara api dan menaruhnya di antara dua bibirnya. Aroma harum tembakau
mahal itu terasa menyentuh bagian paling dalam di hidungnya. Baru kali ini Mbah
Gimun merasakan ada tembakau seenak ini.
Baru sebentar dia menaruh lintingan di
bibirnya, salah satu cucu laki-lakinya datang dengan berlari sangat kencang
hingga hampir menabraknya. Cucu itu memberi tahu, bahwa baru saja ada tiga
orang tamu datang ke rumahnya. Mereka memberi beras dan uang kepada bapaknya.
Cucu itu lalu memamerkan dua butir permen di telapak tangan dan satu yang sudah
berada di mulutnya. Katanya, permen itu juga berasal dari tamu yang datang ke
rumahnya baru saja. Belum sempat Mbah Gimun bertanya lebih lanjut, cucu itu
sudah berlari dengan cepat meninggalkannya. Mbah Gimun lalu melanjutkan pekerjaannya,
sambil tetap membiarkan aroma asap tembakau yang harum menyentuh bagian
terdalam dari indera penciumannya.
Beberapa hari kemudian, Pak RT dan Tukijan
juga datang. Mereka mengantar beras, gula, teh dan lembaran uang duapuluh ribu
rupiah. Tetapi yang dibawa Pak RT dan Tukijan gambar calon bupati yang lain
lagi. Kertas gambar itu tebal dan kaku, lebarnya seperti sajadah. Mbah Gimun
diminta mereka untuk menempelkannya di dinding, supaya ingat bahwa gambar
itulah yang harus dicoblos.
”Tetapi calon bupatinya kok ada dua Jan?”
tanya Mbah Gimun heran.
”Bukan dua tetapi satu Mbah. Yang ini yang
kiri ini bupatinya. Yang kanan wakilnya.” jawab Tukijan dan Pak RT hampir
berbarengan.
”Lalu yang harus saya coblos yang mana Pak
RT?” tanya Mbah Gimun lagi.
”Salah satu saja Mbah. Mau dicoblos wakilnya
boleh, bupatinya juga boleh. Tetapi jangan mencoblos gambar yang lain!” jelas
Pak RT.
”Iya Pak RT, tetapi yang dicoblos matanya atau
mulutnya?” tanya Mbah Gimun lebih terinci.
”Terserah Embah, tetapi yang paling sopan ya
dicoblos baju jasnya saja. Kalau yang dicoblos mata atau mulutnya kan kasihan
Pak Bupatinya.”
”Ya kalau begitu saya akan coblos bajunya
saja. Kalau yang bolong bajunya kan bisa ditambal ya Pak RT?” kata Mbah Gimun.
”Lalu minggu depan ini Mbah, kita semua harus
datang ke lapangan bola.”
”Ada apa lagi Jan?”
”Ada pembagian sembako lagi dan mudah-mudahan
juga ada uangnya. Ada dang-dutnya lo Mbah!”
”Ya, ya, saya akan datang nanti. Jam berapa
Pak RT?”
”Sore, sekitar jam empat. Sebab pagi dan
siangnya Pak Calon Bupati itu akan keliling-keliling dulu untuk pidato. Kampung
kita ini dapat bagian yang terakhir.”
Enam calon bupati dan wakilnya, semua
membagi-bagikan uang dan barang. Mbah Gimun menerima semuanya. Ada yang
limapuluh ribu, duapuluh ribu, sepuluh ribu, tetapi ada pula yang sampai
seratus ribu. Tetapi yang seratus ribu ini kelihatannya hanya dikhususkan untuk
Mbah Gimun. ”Pak Calon Bupati itu sendiri yang memberikannya langsung.
Diselipkan di kantong saya ini waktu salaman.” kata Mbah Gimun senang. Mbah
Gimun juga menerima banyak rokok tetapi langsung dibagikannya kepada
anak-anaknya. ”Saya tidak suka mengisap rokok pabrik. Sebab baunya seperti
minyak wangi. Bau tembakaunya sudah tidak ada,” begitu alasan Mbah Gimun.
Menjelang hari pencoblosan, Mbah Gimun tetap
menyisir lidi dengan pisaunya. Rokok lintingan itu juga tetap menempel di
bibirnya. Hanya dia berpesan kepada anak-anak, agar menjelang pencoblosan
mereka tidak mengantar daun kelapa terlalu banyak.
”Nanti kalau pas coblosan tidak bisa diirat
semua, akan layu. Kalau layu mengiratnya alot,” katanya pada anak-anak itu.
”Mau nyoblos siapa Mbah nanti?” tanya
anak-anak.
”Ya siapa saja. Sebab saya tidak tahu
nama-namanya, dan tidak hapal wajahnya. Baju dan pecinya juga sama kan?” jawab
Mbah Gimun.
”Bukan nyoblos yang paling banyak ngasih uang
Mbah?”
”Saya juga sudah lupa yang mana yang pernah
ngasih uang paling banyak.”
”Nyoblos Pak Dipo saja Mbah. Dia kan
pengusaha, jadi nanti kita semua makmur.”
”Yang pasti makmur ya bupatinya itu, bukan
kita. Selamanya kita ini tidak akan pernah jadi makmur meskipun bupatinya
ganti-ganti.”
Sampai dengan berangkat ke tempat pencoblosan,
sebenarnya Mbah Gimun masih tetap bingung. Enam calon semuanya memberi uang,
memberi beras, memberi tembakau, memberi teh, memberi gula. Mbah Gimun berjalan
beriring-iringan dengan tetangga-tetangganya, dengan anak-anaknya, dengan
menantu-menantunya. Mereka menyusuri jalan desa yang hanya dikeraskan dengan
batu. Pagi itu pohon-pohon tampak diam saja karena tidak ada angin. Di langit
juga tidak kelihatan ada awan. Karena masih pagi, udara terasa tidak terlalu
panas. Di tempat pencoblosan sudah ada banyak orang. Semuanya memakai baju
bagus-bagus dan warna-warni.
Mbah Gimun memakai kain sarung, baju surjan
hitam, sandal jepit, dan kepalanya ditutup udeng. Dia mencari tempat duduk yang
pas. Sebab hampir seluruh warga kampung yang melihatnya, menawarinya tempat
duduk. Dia lalu memilih duduk di kursi plastik di pojok belakang. Dari saku
surjannya, Mbah Gimun mengeluarkan kantong plastik berisi tembakau dan kertas
lintingan. Dia lalu melolos satu lembar kertas, mencomot gumpalan tembakau dan
melintingnya. Tetapi ketika lintingan itu ditaruh di mulutnya, dia kebingungan.
Di rumah, biasanya Mbah Gimun menyalakan rokok lintingannya dengan bara api
dari dapur.
Melihat Mbah Gimun kebingungan, banyak warga
kampung yang menyodorkan korek api gas. Rokok Mbah Gimun lalu mengepulkan asap
yang segera menyebar ke mana-mana. Baunya sangit dan keras. Setelah panitia
mengumumkan hal-ihwal pencoblosan, satu-per satu warga kampung dipanggil. Tidak
lama kemudian Mbah Gimun juga dipanggil, dilihat kartunya, dicatat, dan diberi
kertas suara. Mbah Gimun sudah tahu bagaimana caranya mencoblos. Sebab tahun
lalu dia juga ikut tiga kali pencoblosan seperti ini. Tetapi ketika itu yang
dipilih pak presiden dan DPR. Bukan pak bupati.
Di bilik pencoblosan, Mbah Gimun menggelar
lipatan kertas suara yang baru saja diterimanya. Di sana ada 12 wajah manusia
yang sama-sama mengenakan jas dan kepalanya ditutup peci. Ada yang tersenyum,
ada yang tertawa, ada pula yang tegang dan cemberut. Beberapa kali Mbah Gimun
menyedot rokok lintingannya. Asap mengepul deras sampai menyembul ke luar bilik
pencoblosan. Mbah Gimun memungut rokok lintingan dari bibirnya. Bara api di
ujung rokok itu memerah. Dengan mengucap Bismillah, Mbah Gimun mencoblos 12
wajah dengan api rokoknya. Ada yang dicoblos di jidat, ada yang di pipi, ada
yang di mulut, di mata, di hidung. Mbah Gimun tidak jadi mencoblos baju jas
yang dikenakan oleh para calon itu. ”Sayang, baju bagus-bagus begitu kalau
dicoblos api rokok.”
Cimanggis, 2005.
Post: 07/11/2005
Disimak: 323 kali
Cerpen: F Rahardi
Sumber: Kompas, Edisi 07/10/2005

